Thursday, September 03, 2009

Bodhisattva Mahasthamaprapta

Makna Maha-sthama-prapta (Dashizhi)
Kekuatan seorang bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai kebuddhaan, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva.
Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Maha-sthama-prapta (Mahasthamaprapta), atau dalah Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Dashizhi Pusa.
Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki arti: "Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung". Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing): "Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Maha-sthama-prapta." Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan: "Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Maha-sthama."
Makna nama Maha-sthama-prapta (Dashizhi) dapat diartikan pula sebagai berikut. Maha (Da) menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung; Sthama (Shi) adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal); sedang Prapta (Zhi) adalah pencapaian Pencerahan yang mendekati kebuddhaan.
Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. Supratishthita-guna-ratnaraja Tathagata) yang berarti "Tatagatha Raja Kebajikan dalam Permata Pahala Moralitas."
Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.

Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta
Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedang dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:
Buddha bersabda lagi: "Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 oenjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya.
O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru.
Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara.
Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta", juga dinamakan Vipasyana ke sebelas."
Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan - bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.
Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.
Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. "Seishi" adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta.
Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan "malam" samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.

Bodhisattva Vajrapani tradisi Vajrayana
Di negara atap dunia (Tibet), Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.
Sebagaimana Ananda sebagai siswa "Penjaga Dharma" yang mengingat dan mengucapkan ulang wejangan Buddha dalam konsili pertama, demikian juga di saat yang sama di Gunung Vimalasvabhava, Vajrapani mengucapkan ulang ajaran-ajaran Buddha, yang kemudian dikenal sebagai Sutra-sutra Mahayana. Konsili tersebut dikepalai oleh Bodhisattva Samantabhadra, beserta Maitreya mengucapkan kembali Abhidharma. Keseluruhannya dikumpulkan menjadi Tripitaka Mahayana.
Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, "Penguasa Rahasia", penjaga semua Tantra yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra, dan memimpin pertemuan para Bodhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dibabarkan oleh Buddha.
Dalam Seni Gandhara (Seni Buddha Yunani), Vajrapani digambarkan sebagai Hercules (Herakles), sang tokoh legendaris penemu Olimpiade dan putra dari Zeus, karena melambangkan kekuatan yang maha dasyat. Penggambaran ini kemudian turut mempengaruhi wujud dua emanasi Vajrapani di Asia Timur, yaitu Misshaku dan Narayana. Keduanya ditampilkan di kedua sisi gerbang vihara dengan tubuh berotot dan memegang vajra. Para pelindung tersebut berada dalam posisi beladiri layaknya posisi pratayalidha (prajurit) Vajrapani sendiri.
Vajrapani berarti Tangan Vajra (Petir) atau Pemegang Vajra, adalah satu-satunya bodhisattva Mahayana yang disebutkan dalam naskah Pali, selain Maitreya (Metteyya) dan Svetaketu (Setaketu). Beliau muncul sebagai sebagai Yakkha Vajirapani (Pali), atau Vajrapani (Sanskrit) di Ambattha Sutta, Digha Nikaya. Seorang brahmana bernama Ambatta berkata tidak layak kepada Buddha serta menolak untuk menjawab pertanyaan Buddha sebanyak dua kali. Saat itu juga Yakkha Vajrapani muncul di atas kepala Ambatta, berdiri di udara dengan membawa pemukul besi besar (Vajra) yang menyala-nyala bersiap memecahkan kepala Ambatta sampai berkeping-keping apabila tidak menjawab pertanyaan Buddha untuk ketiga kalinya. Ambattha menjadi sangat ketakutan, kemudian ia mengakui kesalahannya dan memohon perlindungan pada Sang Bhagava. Buddhagosa, komentator Tipitaka Pali yang terkemuka, menyebutkan, bahwa Yakkha Vajirapani adalah Sakka (Shakra), raja para deva di alam Trayastrimsa (Tavatimsa).
Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, "Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu." Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.
Ketika Buddha melalui Bukit Gridhakuta, tempat Buddha membabarkan Prajnaparamita, Devadatta, sepupu Buddha, hendak membunuh Buddha dengan menggulingkan sebuah batu besar. Tepat ketika batu tersebut hampir mengenai Buddha, Vajrapani muncul dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sehingga hanya sedikit melukai jari kaki Buddha. Selain melindungi Buddha, Vajrapani juga pernah melindungi para naga Uddiyana dari serangan garuda ketika para naga itu sedang mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha.
Sewaktu tiba di Kusinagara, India, Faxian (227-422) dan Xuanzang (sekitar 662-664) menemukan sebuah stupa Vajrapani, yang dipercaya sebagai lokasi tempat Vajrapani menjatuhkan vajranya ketika menyaksikan Buddha Sakyamuni Mahaparinirvana.
Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche.
Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.

Amanat Mahasthamaprapta
Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.
Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.


Sumber : Sinar Dharma Vol. 6 n0. 2-4 2551 BE